Gelombang Kedatangan Sebagai proses Menyatu Arus Ata Lamaholot


Siang hari ini Jumat, tanggal 02 September 2011 saya memposting sebuah tulisan yang saya ambil dari http://www.nttonlinenews.com/ntt/index.php?option=com_content&view=article&id=8323:gelombang-kedatangan-sebagai-proses-menyatu-arus-ata-lamaholot&catid=42:opini&Itemid=64 pada tanggal 03/12/2010, yang ditulis oleh Chris Boro Tokan (seorang Tokoh Adonara Yang Tinggal Di Kota Kupang), (Dataran Oepoi, Kota Karang Kupang, Tanah Timor, 16 November 2010). Tulisan ini saya posting dengan maksud untuk memberikan sebuah informasi yang mungkin tidak semua orang Lamaholot tahu tentang sebuah history terkait dengan Awal Gelombang Kedatangan Ata Lamaholot Yang Mendiami Gugusan Kepulauan Solor. Tulisan ini sengaja dihadirkan dengan maksud sesungguhnya adalah untuk memberikan sebuah informasi awal tanpa menafikan informasi dan sejarah kedatangan orang lamaholot pada versi yang lain. Secara Pribadi saya sangat berharap agar semua orang lamaholot yang membaca tulisan ini supaya memberikan masukan dan informasi lainnya yang masih ada kaitannya dengan SEJARAH ORANG LAMAHOLOT sehingga dapat meperkaya khasanah pengetahuan kita tentang eksistensi peradaban orang LAMAHOLOT.

Secara garis besar  teriktisarkan gelombang kedatangan ATA LAMAHOLOT  di wilayah Lamaholot dapat tertelusuri  berawal mula dari petualangan dua orang bersaudara kakak-adik  KELAKE ADO PEHANG BEDA  dan PATI GOLO ARAKIANG  (gelombang 1). Menyusul gelombang SINA JAWA PAPAN HAKA, memayungi rumpun  suku-suku yang sebagian besar menokohkan dua figur PATI  dan  BEDA bersama rombongan sebagai leluhur yang menurunkan mereka  (gelombang 2). Diikuti gelombang SERANG-GORANG memayungi rumpun suku-suku yang mengenal dua pilar LA ASA dan DJOU BOLI bersama rombongan sebagai figur-figur leluhur yang menganak-pinakan mereka (gelombang 3).

Teori Atlantis yang ditandasakan oleh Prof. Arysio Santos mengenai Benua Atlantis yang hilang itu adalah Indonesia, (dalam bukunya”ATLANTIS The Lost Continent Finally Found”, The Devinitive Localization of Plato’sLost Civilization (2005), diIndonesiakan menambah subjudul: INDONESIA TERNYATA TEMPAT LAHIR PERADABAN DUNIA (2009),  terselami merupakan suatu cerita baru tentang legenda para pahlawan berbudi luhur yang bersumber dari peradaban Atlantis yang hilang (hal 276 -277), yang kemudian menyebar ke seluruh dunia, antara lain India, Mesir, Yunani, Amerika Selatan.

Pilahan teori atlantis dimaksud antara lain tentang dua figur sentral dapat menjelaskan  pasangan leluhur yang memimpin setiap gelombang kedatangan dalam proses penyatuan arus Ata Lamaholot di Kepulauan Solor.

Gelombang kedatangan sebagai bagian Prasejarah         

Prasejarah atau nirleka (nir: tidak ada, leka: tulisan) adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada masa di mana catatan sejarah yang tertulis belum tersedia. Zaman prasejarah dapat dikatakan bermula pada saat terbentuknya alam semesta, namun umumnya digunakan untuk mengacu kepada masa di mana terdapat kehidupan di muka bumi dimana manusia mulai hidup.

Babakan masa bagi setiap zaman tersebut tidak sama antara satu sama lain di tempat lain.Babakan  masa itu bergantung kepada tahap kemajuan di suatu tempat itu.Berdasarkan geologi, terjadinya bumi sampai sekarang dibagi ke dalam empat zaman: Arkaezoikum, Paleozoikum, Mesozoikum, Neozoikum.

Zaman Arkaezoikum sebagai zaman api neraka selama 2500 juta tahun bagi bumi karena sangat panas dan tidak bisa didiami oleh makhluk hidup. Di saat berproses ke zaman Paleozoikum,  bumi mulai berevolusi, guntur meteor dan meteorit membentur bumi, suhu bumi makin menyusut, bumi membeku, penyusutan suhu gas mengembun uap air, hujan lebat yang abadi membentuk lautan, pembentukan air, udara makin sempurna.

Paleozoikum atau sering pula disebut sebagai zaman primer atau zaman hidup tua berlangsung selama 340 juta tahun. Makhluk hidup yang muncul pada zaman ini seperti mikro organisme, ikan, ampibi, reptil dan binatang yang tidak bertulang punggung.

Mesozoikum atau sering pula disebut sebagai zaman sekunder atau zaman hidup pertengahan berlangsung selama kira-kira 140 juta tahun, antara 251 hingga 65 juta tahun yang lalu.   Disebut juga sebagai zaman reptil, karena  reptil besar  berkembang dan menyebar ke seluruh dunia.

Dari empat babakan zaman prasejarah hanya Neozoikum atau disebut zaman kehidupan baru dibagi  menjadi dua zaman, yaitu zaman Tersier dan zaman Kuartier. Zaman Tersier berlangsung sekitar 60 juta tahun, ditandai dengan berkembangnya jenis binatang menyusui. Sedangkan Zaman Kuartier ditandai dengan munculnya manusia sehingga merupakan zaman terpenting. Zaman ini kemudian dibagi lagi menjadi dua zaman, yaitu zaman Pleitosen dan Holosin. Zaman Pleitosen (Dilluvium) berlangsung kira-kira 600.000 tahun yang ditandai dengan adanya  manusia purba (bandingkan proses babakan zaman  prasejarah ini dengan Arysio Santos hal 119 s/d 126)

Dengan demikian dapat tertelusuri gelombang kedatangan Ata Lamaholot dengan segala peradabannya yang dikembangkan hingga kini sebagai bagian dari zaman Prasejarah di era pleitosen: yang  secara geologis dibabakan  ke dalam zaman paleolitichum, mezolitichum, neoliticum, dan zaman logam.

Gelombang 1 membawa pola peradaban  ”merapikan” diri, manata diri,  memperbaruhi diri supaya lebih baru secara fisik (menata urusan fisik dalam konteks diri, keluarga), serta pola peradaban ”kawin-mawin” yakni meneruskan keturunan, serta ”pola makan”.   Pola perdaban demikian masih terkosentarsi antar individu atau relasi antar individu yang  dapat tercermati dalam  inti mitos tentang Kelake Ado Pehang Beda dan Kwae Sode Boleng di Pulau Adonara, tentang Pati Golo Arakiang dan Wato Wele di Daratan Flores Bagian Timur. Turunan mereka dikenal sebagai ”Ata Tanah Alapen”, terselami dalam  logika dua leluhur Kelake Ado Pehan Beda dan Pati Golo Arakian  berposisi gelombang 1 yang menginjakan kaki di  Tanah Lamaholot.

Telusuran geologis  Gelombang 1, mungkin di era zaman batu tua (Paleolitikum), alat-alat batu buatan manusia masih dikerjakan secara kasar, tidak diasah atau dipolesi.  Apabila dilihat dari sudut mata pencahariannya periode ini disebut masa berburu dan meramu makanan tingkat sederhana.  Atau di era transisi ke zaman batu tengah (mesolitikum), alat-alat batu zaman ini sebagian sudah dihaluskan terutama bagian yang dipergunakan (ada arfefak kuno di puncak dan lereng Ile Boleng, serta  mendekati  mulut/kahwa  Ile Boleng ada lapangan luas seukuran sekitar lapangan bola kaki dan ada media permainan ”kemoti”, congklak). Tempat ini dikenal dengan “kemoti”, tidak jauh dari Anak Gunung Boleng yang dikenal dengan “Ile Bore”. Periode mesolitikum ini juga disebut masa berburu dan meramu makanan tingkat lanjut (Bandingkan: mitos  Kelake Ado Pehang Beda dan Kewae Sode Boleng, mitos Patigolo Arakiang dan Wato Wele, khusus tentang seleksi makanan yang dapat dimakan dan tidak dapat dimakan).

Gelombang 2 membawa pola peradaban ”penataan hidup dengan Sang Maha Pencipta” , sebagai gelombang kedatangan Sina-Jawa, yang dikenal dalam ceritra rakyat ”lali sina-jawa pa’pan haka”. Di pulau Adonara dan Daratan Flores Timur  dalam ceritra rakyat ada yang menyebut turunan ”Pati – Beda”. Sedangkan di Pulau Solor, khususnya Solor Barat mengenal ”Ata Molan Laga Doni”.  Turunan Ata Sina-Jawa menata  hidup kebersamaan sehari-hari dengan Sang Maha Pencipta, sehingga sesuai peran tersebut turunan mereka  disebut ”Ata Rera-Wulan Alapen”.   Ata Sina-Jawa terkenal sebagai ”molan” (Pastor Adat) yang mendirikan ”Nuba” (Mesbah/Altar) untuk ritual Ata Lamaholot dengan  Alapet/ALLAH (Sang Maha Pencipta). Ritus pendirian altar disebut ”mula nuba” demi mengatur dan menata urusan kerohanian.

Tercermati Gelombang 2, kemungkinan besar  masa transisi dari zaman batu tengah (mesolitikum) ke zaman batu baru(Neolitikum), alat-alat batu buatan manusia   sudah diasah atau dipoles sehingga halus dan indah, tercermati batu ceper yang dijadikan ritual magis-religius untuk mula nuba. Periode ini disebut masa bercocok tanam, tercermati turunan gelombang 2 apabila bercocok tanam selalu membawa hasil melimpah karena memahami letak perbintangan yang menandakan kapan musim hujan dan musim kemarau yang sesungguhnya. Turunan mereka ada yang berfungsi merawat petir dan halilintar. Mengetahui apakah malam sudah mulai masuk ke pagi hari dengan letak bintang tertentu (di pulau Adonara masa lampau, ibu-ibu  yang bangun pagi-pagi ke pasar menyebut bintang itu dengan ”belia”).

Gelombang 3 membawa pola peradaban ”penataan ketahanan diri dan ketahanan sosial”, dalam arti menjaga kelestarian hidup diri sendiri/keluarga, suku, dan masyarakat (Lewo Tanah). Gelombang 3 ini menyebut diri datang dari Serang-Gorang, dari tempat yang jauh di sebelah timur. Dengan terlebih dahulu menaklukan Rara Gong (Raja Gong?). Rara Gong  tersinyalir sebagai penguasa lautan di utara Pulau Adonara, dengan turunan sekarang etnis Lamabelawa Uwe Kole.  Gelombang 3 kemudian berkompetisi  mengambil-alih kekuasaan wilayah Adonara dari turunan gelombang 1.  Berlangsung era penataan ketahanan diri dan ketahanan sosial melalui  ritus ”mula nuba ada nara” demi menata urusan kerohanian dan fisik/jasmaiah dalam konteks  sosial. Ata Serang-Gorang dengan turunan dikenal sebagai ”Ata Lewotanah Alapen”.

Tertelusuri  Gelombang 3,  diduga masa transisi dari zaman batu baru (neolitikum) ke zaman Logam. Selain telah mengenal tembikar dan batik, orang sudah dapat membuat alat-alat dari logam. Tercermati warisan ketrampilan Pandai Besi yang ada di Adonara merupakan warisan gelombang 3. Serta sebab-musebab tiba di Lamaholot karena perebutan mata kail (alat pancing) yang sekarang masih tersimpan.Juga warisan pusaka Anan Koda dan lodan (muncul sendiri dari dalam Bumi) berbahan perunggu.

Dapat ditandaskan bahwa gelombang kedatangan sebagai proses menyatukan arus Ata Lamaholot sesuai siklus perkembangan peradaban:  dari mengurusi diri  dan keluarga (gelombang 1), berkembang mengucapkan syukur dan sembah kepada Yang Maha Berkuasa (gelombang 2),  ”mula nuba”,  serta menata kehidupan bersama dengan sesama yang lain sekaligus membangun ketahanan diri dan sosial (gelombang 3), ”mula nuba ada nara”.***(catatan penulis: khusus untuk pembabakan zaman dalam tulisan ini, bandingkan dengan  Zaman Prasejarah:id.wikipedia.org/wiki/Prasejarah).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s